Pada Desember 2025, Direktur Utama PT Terra Drone Indonesia resmi ditetapkan sebagai tersangka akibat kebakaran yang melanda gedungnya.
Status hukum ini dijatuhkan bukan karena ia yang memicu kebakaran, melainkan karena gedung yang dikelolanya terbukti tidak memiliki sistem keselamatan yang memadai saat insiden terjadi.
Api diketahui bermula dari area penyimpanan baterai drone di lantai satu sebuah gedung tujuh lantai di kawasan Kemayoran, Jakarta.
Fakta paling fatal dari insiden ini adalah penyebab jatuhnya korban jiwa. Yang menewaskan 22 orang di dalamnya bukanlah luka bakar, melainkan paparan gas karbon monoksida.
Asap beracun tersebut memenuhi seluruh area karena absennya sistem manajemen asap (smoke management system) yang berfungsi. Di saat yang sama, dimensi jalur evakuasi tidak memadai untuk membawa seluruh penghuni keluar tepat waktu.
Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa pemenuhan standar keselamatan kebakaran tidak bisa sebatas formalitas administratif.
Bagi jajaran direksi, manajer properti, dan pengembang bangunan, insiden tersebut menegaskan urgensi penerapan strategi engineering.
Kegagalan dalam merancang kompartemen api, manajemen asap, dan rute evakuasi akan menghancurkan nilai aset, juga membawa konsekuensi pidana.
Oleh karena itu, artikel ini akan membedah strategi engineering dalam proteksi kebakaran gedung bertingkat untuk memastikan keselamatan nyawa sekaligus menjaga keberlangsungan operasional bangunan.
Mengapa Gedung Bertingkat Memiliki Risiko Kebakaran yang Lebih Kompleks?

1. Evakuasi Vertikal yang Menantang
Berbeda dengan bangunan horizontal, evakuasi gedung bertingkat menimbulkan tekanan fisik dan psikologis bagi penghuninya.
Menuruni puluhan lantai tangga darurat dalam kondisi panik, asap, dan kegelapan jauh berbeda dengan keluar melalui pintu darurat biasa.
Mengutip dari pbfpe.com, penghuni membutuhkan setidaknya dua isyarat sebelum memulai evakuasi, misalnya mencium asap dan mendengar alarm kebakaran secara bersamaan.
Jika hanya satu isyarat yang hadir, penghuni cenderung mengabaikannya, memperparah keterlambatan evakuasi.
Dalam kondisi seperti Terra Drone, keterlambatan beberapa menit saja bisa berarti selamat dan tidak.
2. Kepadatan Okupansi Tinggi
Gedung perkantoran, apartemen, dan mixed-use building di pusat kota menampung ratusan hingga ribuan orang dalam satu struktur.
Kepadatan ini menimbulkan risiko jatuhnya korban yang lebih besar kalau proteksi gagal, sekaligus memperumit prosedur evakuasi terorganisir.
3. Fire Spread Melalui Shaft dan Facade
Salah satu ancaman berbahaya di gedung bertingkat adalah cepatnya api dan asap merambat secara vertikal.
Tangga darurat, lift, dan shaft utilitas dapat mengalirkan gas panas dan asap beracun ke seluruh lantai gedung — persis seperti yang terjadi di Terra Drone, di mana mayoritas korban ditemukan bukan di titik api, melainkan di lantai 3 dan 4.
4. Sistem Mekanikal dan Elektrikal yang Kompleks
Gedung bertingkat modern terdiri dari jaringan listrik tegangan tinggi, sistem HVAC skala besar, instalasi gas, server room, dan infrastruktur lain yang masing-masing membawa potensi ignisi tersendiri.
Kompleksitas ini membutuhkan pendekatan proteksi yang tidak bisa diseragamkan, melainkan harus disesuaikan dengan profil risiko tiap zona dalam gedung.
5. Dampak Finansial dan Reputasi yang Signifikan
Kebakaran pada gedung bertingkat komersial tidak berhenti pada kerusakan fisik. Konsekuensinya mencakup:
- Liability hukum. UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan regulasi K3 memberikan dasar hukum untuk pertanggungjawaban pidana maupun perdata bagi pengelola yang terbukti lalai. Kasus Terra Drone salah satu contoh bahwa penetapan tersangka bisa mengarah langsung ke level direksi.
- Risiko klaim asuransi ditolak. Jika investigasi insurer menemukan sistem proteksi tidak sesuai yang dideklarasikan saat underwriting, klaim bisa ditolak dengan alasan material non-disclosure. Untuk gedung bernilai di atas Rp 50 miliar, kerugian harus ditanggung pengelola sendiri.
- Downtime dan kehilangan tenant. Kerugian yang sering melampaui biaya perbaikan fisik mencakup ketidakhadiran ratusan karyawan selama proses pemulihan, tenant keluar dari perjanjian sewa, dan reputasi gedung tercemar.
- Kenaikan premi asuransi. Klaim besar sering diikuti kenaikan premi di tahun berikutnya, bahkan pembatasan coverage apabila risk grading gedung dinilai buruk oleh insurer.
Prinsip Dasar Fire Protection Engineering pada Gedung Bertingkat
Fire protection engineering modern dibangun di atas lima pilar utama yang saling melengkapi dan tidak bisa berdiri sendiri.
1. Prevention
Pencegahan kebakaran harus dimulai sejak tahap desain awal.
Mencakup pemilihan material bangunan yang memiliki fire resistance rating memadai, tata letak ruangan yang meminimalkan akumulasi bahan mudah terbakar, serta pengelolaan sumber ignisi potensial.
2. Detection
Sistem deteksi dini yang efektif memberikan waktu kritis bagi penghuni untuk evakuasi dan bagi sistem pemadaman untuk bekerja sebelum api meluas.
Pada gedung bertingkat, sistem deteksi harus mampu mengidentifikasi titik api secara akurat di antara ratusan zona pemantauan yang berbeda.
3. Suppression
Pemadaman otomatis harus mampu bekerja mandiri, tanpa mengandalkan respons manual, pada menit-menit awal kebakaran ketika potensi pengendalian api masih paling tinggi.
Tujuan utama sistem ini adalah pemadaman otomatis sebelum unit pemadam kebakaran (DAMKAR) tiba di lokasi.
4. Containment
Kompartementasi atau pembatasan penyebaran api ke area yang lebih luas adalah strategi pasif yang sama pentingnya dengan sistem aktif.
Dengan membatasi api dalam zona tertentu, sistem containment memberikan waktu lebih panjang untuk evakuasi dan penanganan.
5. Safe Evacuation
Kelima prinsip ini bermuara pada satu tujuan, yakni memastikan setiap penghuni dapat keluar dari gedung dengan selamat.
Hal ini mencakup desain jalur evakuasi, sistem pencahayaan darurat, komunikasi massa yang efektif, dan prosedur evakuasi bertahap yang terlatih dengan baik.
Sistem Utama Proteksi Kebakaran Gedung Bertingkat

1. Sistem Deteksi Kebakaran Otomatis
Sistem deteksi kebakaran modern pada gedung bertingkat mencakup jaringan detektor asap, detektor panas, detektor gas, dan beam detector.
Semuanya terhubung ke satu pusat kendali yang disebut Fire Alarm Control Panel (FACP).
Yang membuat sistem ini efektif adalah mampu mengenali lokasi kejadian secara spesifik. Ketika alarm berbunyi, sistem memberi tahu bahwa ada api, lalu langsung menunjuk zona mana dan perangkat mana yang terpicu.
Penempatan detektor juga tidak dilakukan sembarangan. Setiap zona memiliki kebutuhan berbeda tergantung jenis hunian dan potensi bahayanya.
Ruang server, misalnya, membutuhkan detektor yang sensitif dibandingkan lobi atau area parkir, karena jenis ancaman dan dampak kerusakannya pun berbeda.
2. Sistem Pemadaman Otomatis
Sprinkler tidak bekerja secara serentak di seluruh gedung.
Penempatannya diatur dengan pola tertentu agar setiap titik mendapat cakupan air yang optimal. Hanya kepala sprinkler yang berada di dekat sumber panas yang akan aktif. Artinya, sistem ini cukup cerdas untuk merespons tanpa membasahi seluruh lantai.
Namun sprinkler bukan satu-satunya pilihan, karena tidak semua area bisa dipadamkan dengan air.
Ruang server dan panel listrik, misalnya, justru bisa rusak parah jika terkena air. Sistem gas pemadam, seperti FM-200, CO2, atau Novec 1230, berperan dengan bekerja tanpa meninggalkan residu yang merusak perangkat elektronik.
Sementara area yang menyimpan cairan mudah terbakar, maka sebaiknya menggunakan sistem foam.
Lalu di setiap lantai, hydrant system dengan jaringan pipa tegak (standpipe) tetap tersedia sebagai cadangan untuk operasi pemadaman manual oleh petugas.
Semua komponen ini tidak ditentukan sembarangan.
Sebelum menentukan jenis pompa, jumlah media pemadam, atau kapasitas sistem keseluruhan, perencana terlebih dahulu harus mengklasifikasikan tingkat bahaya hunian gedung.
Mulai dari Light Hazard untuk area berisiko rendah hingga Extra Hazard untuk zona dengan potensi kebakaran paling tinggi. Klasifikasi inilah yang menjadi acuan utama seluruh keputusan desain.
3. Sistem Manajemen Asap (Smoke Control System)
Kasus Terra Drone membuktikan bahwa asap lebih mematikan dari api. Smoke control system bekerja melalui tiga mekanisme, yakni:
- Pressurization System memberikan tekanan positif pada tangga darurat dan lift sehingga asap tidak dapat masuk ke jalur evakuasi.
- Exhaust System mengekstrak asap dari zona kebakaran ke luar gedung untuk menjaga visibilitas dan kualitas udara di area evakuasi.
- Makeup Air System menyuplai udara segar ke area yang membutuhkan sebagai pengganti asap yang telah diekstrak.
Seluruh sistem ini dikontrol otomatis melalui Building Management System (BMS) yang terintegrasi dengan fire alarm system.
4. Fire Compartmentation dan Passive Fire Protection
Passive fire protection (PFP) berperan sama pentingnya dengan sistem aktif seperti sprinkler atau alarm.
Prinsip kerjanya adalah memperlambat perambatan api dan asap selama mungkin agar penghuni punya cukup waktu untuk evakuasi.
Fire-rated walls dan partisi, misalnya, dirancang untuk bertahan di bawah paparan api selama satu jam, dua jam, atau lebih tergantung kebutuhan zona tersebut. Selama itu, api tertahan di satu kompartemen dan tidak bisa menyebar bebas ke area lain.
Namun, gedung penuh dengan celah. Saluran udara HVAC, kabel listrik, pipa air, semuanya menembus dinding dan lantai dari satu sisi ke sisi lain.
Tanpa penanganan khusus, celah-celah inilah yang justru menjadi jalur paling mudah bagi asap dan api untuk berpindah.
Karena itulah, fire damper dipasang di dalam ducting HVAC untuk menutup aliran udara secara otomatis saat terdeteksi asap. Lalu, firestopping mengisi dan menyegel setiap penetrasi kabel maupun pipa agar tidak ada jalur terbuka yang tersisa.
Sementara di area yang membutuhkan visibilitas seperti koridor atau ruang kontrol, fire-rated glazing memberikan perlindungan termal tanpa harus menutup pandangan sepenuhnya.
5. Sistem Evakuasi dan Life Safety Infrastructure
Saat alarm kebakaran berbunyi, semua sistem deteksi dan pemadaman yang telah dirancang sebelumnya hanya bermakna kalau penghuni berhasil keluar dengan selamat.
Karena itulah, infrastruktur evakuasi menjadi ujung dari seluruh rangkaian proteksi kebakaran gedung.
Elemen infrastruktur paling utama adalah tangga darurat. Bukan yang penting ada saja, melainkan tangga darurat harus bisa digunakan saat ratusan orang bergerak bersamaan dalam kondisi panik.
Mengutip pbfpe.com, ada empat pertimbangan utama yang perlu dioptimalkan dalam perancangan tangga darurat, yaitu lokasi mudah dijangkau, kapasitas memadai, perlindungan dari asap dan api, serta identifikasi yang jelas.
Di luar tangga darurat, sistem evakuasi modern juga mencakup:
- Voice Evacuation System (VES) untuk panduan evakuasi terstruktur dan mengurangi kepanikan massa.
- Emergency lighting dan exit sign yang beroperasi mandiri saat aliran listrik utama terputus.
- Refuge area sebagai area perlindungan sementara bagi penghuni dengan keterbatasan mobilitas.
- Lift kebakaran (firefighting lift) yang dioperasikan eksklusif untuk keperluan pemadam kebakaran.
Desain Proteksi Kebakaran Berdasarkan Profil Risiko Gedung
1. Gedung Perkantoran High-Rise
Gedung perkantoran high-rise didefinisikan sebagai bangunan dengan lantai hunian di atas 75 kaki atau sekitar 23 meter dari permukaan tanah sesuai NFPA 101 dan International Building Code.
Karakteristik risiko gedung ini cukup terprediksi. Beban bahan mudah terbakar relatif konsisten, pola hunian teratur mengikuti jam kerja, dan sebagian besar penghuni merupakan orang dewasa dalam kondisi sehat.
Strategi proteksi pada gedung perkantoran menekankan pada deteksi dini yang sensitif, sistem evakuasi terlatih, dan integrasi dengan sistem keamanan gedung.
Phased evacuation, di mana lantai yang terdampak bersama lantai di atas dan di bawahnya dievakuasi terlebih dahulu, menjadi pendekatan standar untuk meminimalkan kemacetan tangga darurat.
2. Mixed-Use Building
Mixed-use building sangat kompleks karena menggabungkan berbagai fungsi dengan profil risiko berbeda, seperti retail di lantai bawah, perkantoran di tengah, dan residensial di atas.
Setiap zona harus dirancang dengan sistem proteksi sesuai karakteristik dan kapasitas penghuninya masing-masing, tetapi tetap terintegrasi dalam satu sistem manajemen terpusat.
3. Fasilitas Publik dengan Okupansi Tinggi
Hotel, pusat perbelanjaan, dan fasilitas publik lain memiliki tingkat rotasi penghuni yang tinggi, artinya sebagian besar penghuni tidak familiar dengan layout gedung dan prosedur evakuasi.
Kondisi ini menuntut sistem voice evacuation yang intuitif, penanda evakuasi yang sangat jelas, dan prosedur yang dapat dipahami bahkan oleh pengunjung pertama kali.
4. Gedung dengan Nilai Aset Tinggi
Data center, gedung museum, atau fasilitas keuangan membutuhkan proteksi yang memprioritaskan keselamatan aset digital dan fisik.
Komponen kritis di kategori ini mencakup sistem pemadam gas yang tidak merusak peralatan elektronik, fire suppression berbasis presisi, serta sistem monitoring 24/7.
Pendekatan Modern dalam Proteksi Kebakaran Gedung Tinggi
1. Performance-Based Fire Design
Pendekatan konvensional dalam proteksi kebakaran mengacu pada prescriptive codes, yaitu memenuhi persyaratan minimum yang telah ditetapkan regulasi.
Pendekatan modern yang semakin diadopsi adalah performance-based fire design, di mana sistem dirancang berdasarkan analisis kuantitatif terhadap skenario kebakaran spesifik pada gedung tersebut.
Metode ini memunculkan solusi efisien secara biaya sekaligus lebih efektif secara teknis, karena memenuhi standar minimum dan benar-benar dirancang untuk kondisi nyata gedung tersebut.
2. Fire Modeling dan Simulation
Sebelum satu pun sistem fisik dipasang, fire protection engineer modern menggunakan software simulasi, seperti Fire Dynamics Simulator (FDS) untuk memodelkan skenario kebakaran secara virtual.
Simulasi ini menghasilkan data tentang laju penyebaran asap, distribusi panas, dan waktu yang tersedia untuk evakuasi aman (Available Safe Egress Time/ASET) dibandingkan waktu yang dibutuhkan untuk evakuasi (Required Safe Egress Time/RSET).
3. Integrated Building Safety System
Sistem proteksi kebakaran modern terintegrasi penuh dengan Building Management System (BMS), sistem keamanan fisik seperti CCTV dan akses kontrol, serta sistem komunikasi darurat.
Integrasi ini dapat memberikan respon cepat, koordinasi yang lebih baik, dan pemantauan penuh terhadap kondisi gedung dalam satu platform terpadu.
4. Risk-Based Protection Level
Tidak semua area dalam gedung membutuhkan level proteksi yang sama. Karena itu, pendekatan risk-based mengalokasikan sumber daya proteksi terhadap tingkat risiko tiap zona.
Contohnya, ruang server mendapatkan proteksi premium, sedangkan area dengan risiko rendah mendapatkan sistem standar.
Peran Konsultan Fire Protection dalam Proyek Gedung Bertingkat

Setelah kasus Terra Drone, Gubernur DKI menyatakan akan segera menerbitkan Peraturan Gubernur untuk penertiban bangunan.
Dan, baru 10 dari 3.500 gedung di ibu kota yang sudah diperiksa. Artinya, dalam 6–12 bulan ke depan, audit dan inspeksi kemungkinan akan lebih intensif.
Pertanyaannya, apakah pihak manajemen gedung Anda akan mengambil langkah mitigasi sebelum diaudit, atau baru bereaksi setelah gap keselamatan ditemukan?
Tim Lumeshield, dengan pengalaman 10+ tahun dan sertifikasi dari BNSP, LPJK, serta pelatihan FM Global di Kuala Lumpur, siap membantu pengelola gedung, developer, dan tim HSE di setiap tahapan sistem proteksi kebakaran melalui empat layanan terintegrasi:
✔️ Fire Risk Assessment
✔️ Fire Protection System Design
✔️ Evaluasi Fire Protection System
✔️ EPC Support untuk supervisi instalasi di lapangan
Hasilnya dapat langsung digunakan untuk memenuhi ketentuan asuransi properti, mendukung kesiapan audit regulasi, dan menjadi landasan teknis untuk keputusan desain dan upgrade sistem proteksi gedung Anda.
Ceritakan kondisi fasilitas Anda kepada tim Lumeshield! Kami akan rekomendasikan solusi yang sesuai dan ajukan proposal dengan scope of work serta estimasi biaya yang jelas sebelum Anda mengambil keputusan apapun.

