Fire Safety Management

Mengenal Fire Safety Management (MKKG), Lebih Dari Sekadar Pasang Alat!

Fire safety management punya peran krusial bagi sebuah gedung atau fasilitas. Tanpa pengelolaan yang terstruktur, elemen sistem proteksi kebakaran seperti APAR, hydrant, atau alarm kebakaran berisiko tidak berfungsi saat dibutuhkan.

Di Indonesia, konsep Fire Safety Management diwujudkan melalui Manajemen Keselamatan Kebakaran Gedung (MKKG). Pendekatan ini memastikan bahwa upaya pencegahan, penanggulangan, dan evakuasi kebakaran berjalan efektif dan berkelanjutan, sesuai dengan risiko aktual bangunan. Kenali lebih lanjut seluk-beluknya melalui artikel ini!

Apa itu MKKG dan Mengapa Penting?

Manajemen Keselamatan Kebakaran Gedung (MKKG) adalah sistem pengelolaan terpadu yang mengatur bagaimana risiko kebakaran diidentifikasi, dikendalikan, dan ditinjau secara berkala. MKKG mencakup kebijakan, struktur organisasi, prosedur operasional, hingga evaluasi berkelanjutan terhadap sistem proteksi kebakaran.

Pentingnya MKKG terletak pada pendekatannya yang holistik. Kebakaran bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah manajemen. Banyak kegagalan saat kebakaran terjadi bukan karena alat tidak ada, melainkan karena tidak ada prosedur yang jelas, personel tidak terlatih, atau sistem tidak dirawat dengan benar.

Standar Struktur MKKG di Indonesia

Fire Safety Management
Sumber: M L S Systems

Secara umum, struktur MKKG di Indonesia dirancang agar upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran berjalan terorganisir, terdokumentasi, dan berkelanjutan.

Ada tiga regulasi utama yang harus dipatuhi, yaitu:

  1. Permen PUPR No. 14 Tahun 2017: mengatur sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung, khususnya terkait material bangunan, desain sistem kebakaran, dan prosedur evakuasi yang efektif.
  2. SNI 03-1746-2000: mengatur sistem deteksi kebakaran, terutama dalam hal pemasangan sensor dan sistem alarm.
  3. NFPA 101 Life Safety Code: pedoman komprehensif dan berkelanjutan untuk melindungi jiwa dan harta benda dari risiko kebakaran.

Salah satu contoh dalam hal struktur organisasi adalah Struktur MKKG di Kantor Kecamatan Kramat Jati. Tim ini terdiri atas Kepala MKKG, Regu Pemadaman, Regu Pemandu Evakuasi, Regu Komunikasi, Regu Pengamanan Barang Berharga/Dokumen, Regu P3K, Regu Keamanan, dan Regu Teknisi.

Struktur seperti ini memastikan bahwa tanggung jawab keselamatan kebakaran tidak terpusat pada satu orang saja. Pendekatan ini membantu mengoptimalkan koordinasi saat darurat, mengurangi duplikasi tugas, dan mempercepat respons terhadap insiden kebakaran.

Komponen Lengkap MKKG

Fire Safety Management
Sumber: TAS Fire Protection

1. Sistem Pencegahan Kebakaran

Pencegahan adalah lapisan pertama dalam fire safety management. Sistem ini mencakup pengendalian sumber api, pengelolaan instalasi listrik, penataan area berisiko, serta pengaturan penyimpanan bahan mudah terbakar.

Dalam MKKG, pencegahan tidak bersifat reaktif, melainkan berbasis identifikasi risiko. Artinya, setiap potensi bahaya dianalisis sejak awal untuk mencegah terjadinya kebakaran, bukan sekadar merespons setelah api muncul.

2. Sistem Supresi Api

Sistem supresi api mencakup APAR, sistem hydrant, sistem sprinkler, foam system, hingga sistem khusus untuk area berisiko tinggi. Dalam kerangka MKKG, keberadaan sistem ini harus selaras dengan klasifikasi risiko bangunan dan diuji secara berkala.

MKKG memastikan bahwa sistem supresi tidak hanya terpasang, tetapi juga siap pakai, terpelihara, dan dapat dioperasikan oleh personel yang tepat saat kondisi darurat.

3. Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran

Deteksi dini adalah faktor penentu keberhasilan evakuasi dan pengendalian kebakaran. Sistem deteksi dan alarm kebakaran berfungsi memberikan peringatan awal agar respons dapat dilakukan secepat mungkin.

Dalam fire safety management, sistem alarm tidak berdiri sendiri. Komponen ini perlu mengintegrasikan detektor asap dan panas, panel kontrol, dan alarm kebakaran.

4. Rencana Evakuasi dan Tanda Darurat

MKKG mensyaratkan adanya rencana evakuasi yang jelas, terdokumentasi, dan mudah dipahami oleh seluruh penghuni gedung. Poin ini mencakup jalur evakuasi, titik kumpul, tangga darurat, serta signage dan pencahayaan darurat.

Tanpa rencana evakuasi yang diuji dan dipahami, kepanikan saat kebakaran justru dapat menimbulkan korban, meskipun api masih dalam skala kecil.

Fire Safety Management
Sumber: Koorsen Fire & Security

5. Pelatihan Penggunaan APAR

Pelatihan penggunaan APAR merupakan bagian penting dari Fire Safety Management. MKKG memastikan bahwa personel yang ditunjuk tidak hanya tahu lokasi APAR, tetapi juga memahami jenis APAR dan cara penggunaannya sesuai kelas kebakaran.

Pelatihan ini bertujuan agar kebakaran kecil dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi insiden besar, tanpa membahayakan keselamatan pengguna.

6. Drill Evaluasi secara Berkala

Simulasi atau fire drill adalah cara untuk menguji efektivitas sistem fire safety management secara nyata. Simulasi skenario kebakaran ini sekaligus membantu penghuni gedung memahami langkah evakuasi yang cepat, tepat, dan teratur.

Drill membantu mengidentifikasi kelemahan dalam prosedur, komunikasi, maupun kesiapan personel. MKKG turut menekankan pentingnya evaluasi pasca-drill agar temuan di lapangan dapat ditindaklanjuti dan sistem terus diperbaiki.

7. Audit dan Pemeliharaan Rutin

Audit dan pemeliharaan merupakan elemen penutup sekaligus penguat dalam MKKG. Audit memastikan seluruh komponen fire safety management tetap sesuai standar dan risiko terkini, sementara pemeliharaan menjaga keandalan sistem proteksi kebakaran.

Tanpa audit dan pemeliharaan rutin, fire safety management berisiko menjadi dokumen formalitas semata. Lebih lanjut, skenario terburuk ketika sebuah gedung atau fasilitas mengabaikan langkah ini adalah sistem proteksi kebakaran yang tidak bekerja efektif saat dibutuhkan.

Fire Safety Management yang Efektif Dimulai dari Fire Risk Assessment

Fire Safety Management tidak bisa dibangun tanpa pemahaman risiko yang akurat. Di sinilah Fire Risk Assessment (FRA) berperan sebagai fondasi utama. FRA membantu mengidentifikasi sumber bahaya, skenario kebakaran, dan tingkat risiko spesifik pada setiap area bangunan.

Melalui layanan Fire Risk Assessment, Lumeshield membantu Anda selaku pemilik dan pengelola fasilitas merancang Fire Safety Management yang benar-benar berbasis risiko, bukan sekadar memenuhi checklist. Hasil FRA menjadi dasar teknis untuk penyusunan MKKG, peningkatan sistem proteksi, serta kesiapan audit dan asuransi.

Ingin membangun fire safety management yang efektif dan terukur? Hubungi kami untuk memulai konsultasi!

Share this article!