Jenis APAR

Penting! Ini 6 Jenis APAR dan Penggunaanya dalam Industri

Jenis APAR merupakan salah satu aspek paling mendasar dalam sistem keselamatan kebakaran di lingkungan industri. Namun dalam praktiknya, masih banyak fasilitas kerja yang memasang APAR tanpa memahami fungsi spesifik, kelas kebakaran, hingga keterbatasan masing-masing alat pemadam.

Jangan sampai Anda juga salah pilih! Artikel ini akan membahas jenis-jenis APAR berdasarkan kelas kebakaran, fungsi, serta tips memilih APAR yang tepat untuk kebutuhan industri.

Mengapa Penting Mengetahui Jenis APAR?

Setiap jenis APAR dirancang untuk memadamkan kelas kebakaran tertentu, dengan karakteristik media pemadam yang berbeda. Kesalahan pemilihan APAR dapat menyebabkan pemadaman tidak efektif, memperbesar kerusakan, bahkan membahayakan keselamatan personel.

Mengetahui jenis APAR bukan sekadar pemenuhan kewajiban K3, tetapi merupakan bagian krusial dari strategi pengendalian risiko kebakaran di lingkungan industri. Proses pemadaman awal bisa lebih efektif sehingga keselamatan personel dan lingkungan kerja bisa lebih terjamin.

Kelas Kebakaran yang Harus Anda Ketahui

Sebelum membahas jenis APAR, penting untuk memahami klasifikasi kelas kebakaran yang menjadi dasar pemilihannya. Simak perbedaan utamanya di bawah ini.

1. Kelas A: Benda Padat (Kayu, Kertas, Kain)

Kelas kebakaran A melibatkan material padat non-logam seperti kayu, kertas, tekstil, dan plastik tertentu. Umumnya terjadi di area perkantoran, gudang, atau ruang arsip.

2. Kelas B: Benda Cair & Gas Mudah Terbakar (Bensin, Tiner, LPG)

Kelas kebakaran B melibatkan cairan atau gas yang mudah terbakar seperti bensin, solar, tiner, alkohol, dan LPG. Kebakaran seperti ini mungkin terjadi di area produksi, bengkel, dan fasilitas industri kimia.

3. Kelas C: Kebakaran Listrik (Panel, Komputer)

Kelas kebakaran C berasal dari instalasi atau peralatan listrik bertegangan, seperti panel listrik, server, mesin produksi, dan peralatan elektronik lainnya. Jenis kebakaran ini biasa terjadi di rumah, kantor, dan fasilitas industri yang menggunakan banyak perangkat listrik. 

4. Kelas D: Logam yang Mudah Terbakar

Kelas kebakaran D melibatkan logam reaktif seperti magnesium, sodium, aluminium powder, dan titanium. Biasanya terjadi di industri manufaktur khusus atau laboratorium.

5. Kelas K: Api dari Lemak/Minyak Dapur

Kelas kebakaran K umumnya terjadi di dapur komersial atau fasilitas pengolahan makanan. Kebakaran ini melibatkan minyak goreng dan lemak bersuhu tinggi.

Jenis-jenis APAR: Fungsi, Kelebihan, dan Kekurangannya

Setiap jenis APAR memiliki karakteristik media pemadam yang berbeda dan dirancang untuk kelas kebakaran tertentu. Pemilihan yang tepat akan menentukan efektivitas pemadaman, keselamatan personel, serta perlindungan aset industri.

1. APAR Water Based

Jenis APAR
Sumber: CheckFire

APAR water based menggunakan air sebagai media pemadam untuk menurunkan suhu api (cooling effect). Cocok untuk kebakaran Kelas A, yaitu material padat non-logam seperti kayu, kertas, kain, dan plastik tertentu.

Kelebihan APAR water based:

  • Efektif memadamkan api dengan cepat pada material padat
  • Ramah lingkungan dan tidak beracun
  • Biaya relatif ekonomis
  • Mudah digunakan dan dipelihara

Kekurangan APAR water based:

  • Tidak boleh digunakan pada kebakaran listrik (Kelas C)
  • Tidak efektif untuk kebakaran cairan mudah terbakar (Kelas B)
  • Berpotensi merusak peralatan dan dokumen penting

2. APAR Berisi Busa (Foam)

Jenis APAR
Sumber: atasee fire industries private limited

APAR foam bekerja dengan membentuk lapisan busa yang menutup permukaan bahan bakar dan mencegah kontak dengan oksigen. Umumnya digunakan untuk kebakaran Kelas A dan B, terutama cairan mudah terbakar.

Kelebihan APAR busa:

  • Efektif untuk kebakaran cairan seperti bensin, solar, dan pelarut
  • Mengurangi risiko penyalaan ulang (re-ignition)
  • Lebih aman dibanding air untuk cairan mudah terbakar

Kekurangan APAR busa:

  • Tidak disarankan untuk kebakaran listrik aktif
  • Menyisakan residu yang perlu dibersihkan
  • Kurang efektif untuk kebakaran gas atau logam

3. APAR CO₂ (Karbondioksida)

Jenis APAR
Sumber: atasee fire industries private limited

Sumber: Firewise Supplies Ltd

APAR CO₂ memadamkan api dengan cara mengurangi kadar oksigen di sekitar sumber api. Jenis ini sangat efektif untuk kebakaran Kelas B dan C, terutama pada area dengan peralatan listrik dan elektronik.

Kelebihan APAR CO₂:

  • Tidak meninggalkan residu
  • Aman untuk panel listrik, server, dan peralatan elektronik sensitif
  • Pemadaman cepat pada area terbatas

Kekurangan APAR CO₂:

  • Kurang efektif di ruang terbuka
  • Risiko sesak napas jika digunakan di ruang tertutup tanpa ventilasi
  • Tidak cocok untuk kebakaran Kelas A yang berpotensi menyala kembali

4. APAR Dry Chemical Powder (DCP)

Jenis APAR
Sumber: China Fire Extinguisher

APAR dry chemical powder merupakan APAR yang paling serbaguna karena dapat digunakan untuk Kelas A, B, dan C. Jenis APAR ini menggunakan serbuk kimia kering untuk memutus reaksi kimia api.

Kelebihan APAR dry chemical powder:

  • Efektif pada berbagai jenis kebakaran
  • Pemadaman cepat
  • Cocok untuk area industri, gudang, dan fasilitas umum

Kekurangan APAR dry chemical powder:

  • Menyisakan residu serbuk yang dapat merusak peralatan
  • Membersihkan sisa pemadaman membutuhkan waktu
  • Kurang ideal untuk area dengan perangkat elektronik sensitif

5. APAR Khusus Logam (Metal Fire Extinguisher)

Jenis APAR
Sumber: Fire Extinguishers Singapore

APAR khusus logam (metal fire extinguisher) dirancang khusus untuk kebakaran Kelas D, yaitu logam mudah terbakar seperti magnesium, sodium, potassium, dan aluminium powder. Isinya serbuk pemadam khusus berbahan dasar mineral kering dan dirancang untuk tidak bereaksi dengan logam yang terbakar.

Kelebihan APAR khusus logam:

  • Satu-satunya APAR yang aman untuk kebakaran logam
  • Mencegah reaksi kimia berbahaya
  • Efektif pada suhu kebakaran ekstrem

Kekurangan APAR khusus logam:

  • Penggunaan sangat spesifik dan terbatas
  • Harga relatif lebih mahal
  • Membutuhkan pelatihan khusus bagi pengguna

6. APAR Kelas K (Wet Chemical)

Jenis APAR
Sumber: Hseblog

APAR wet chemical bekerja dengan proses saponifikasi, membentuk lapisan pelindung pada permukaan minyak atau lemak panas. APAR ini khusus digunakan untuk kebakaran Kelas K, seperti pada dapur komersial dan industri makanan.

Kelebihan APAR wet chemical:

  • Sangat efektif untuk minyak goreng dan lemak panas
  • Mengurangi risiko api menyala kembali
  • Aman digunakan di area dapur profesional

Kekurangan APAR wet chemical:

  • Tidak serbaguna untuk kelas kebakaran lain
  • Kurang efektif untuk kebakaran listrik
  • Biasanya hanya dibutuhkan pada area tertentu

Tips Memilih APAR untuk Industri

Memilih APAR untuk industri tidak bisa disamakan dengan kebutuhan rumah tangga atau kantor kecil. Lingkungan industri memiliki potensi kebakaran yang lebih kompleks, melibatkan listrik bertegangan tinggi, bahan kimia, mesin beroperasi terus-menerus, hingga proses produksi bersuhu tinggi. 

Oleh karena itu, pemilihan APAR harus berbasis analisis risiko kebakaran, bukan sekadar harga atau ketersediaan di pasaran. Kesalahan memilih jenis APAR bukan hanya membuat api gagal dipadamkan, tetapi juga berpotensi memperparah kebakaran, merusak aset bernilai tinggi, dan membahayakan operator. Lebih lanjut, berikut tipsnya.

1. Petakan Kelas Kebakaran di Setiap Area

Langkah pertama adalah mengidentifikasi kelas kebakaran dominan di tiap zona fasilitas. Area produksi, ruang panel listrik, gudang bahan kimia, dan dapur industri tidak boleh diperlakukan sama.

Contohnya, ruang panel listrik membutuhkan APAR CO₂ atau DCP karena tidak menghantarkan listrik, sementara dapur F&B memerlukan APAR kelas K (wet chemical) yang mampu memadamkan api dari minyak dan lemak panas.

2. Sesuaikan Jenis APAR dengan Potensi Kerusakan Aset

Dalam industri, kerusakan akibat residu APAR sering kali lebih mahal daripada kebakarannya sendiri. APAR dry chemical powder memang efektif, tetapi residunya bisa merusak panel kontrol, mengganggu sensor mesin, hingga menyebabkan korosi jangka panjang.

Untuk area dengan peralatan sensitif seperti data center, ruang kontrol, atau laboratorium, APAR CO₂ atau clean agent lebih direkomendasikan karena tidak meninggalkan residu dan meminimalkan downtime operasional.

3. Perhatikan Kapasitas dan Rating APAR

Setiap APAR memiliki fire rating (misalnya 2A, 20B, dll.) yang menunjukkan kemampuan pemadaman maksimum. Di lingkungan industri, penggunaan APAR berkapasitas kecil sering kali tidak cukup untuk menahan api di fase awal.

APAR harus dipilih berdasarkan luas area, jenis bahan terbakar, dan potensi eskalasi api. APAR yang terlalu kecil bisa membuat operator gagal memadamkan api dan kehilangan golden time sebelum api membesar.

4.Perhatikan Kemudahan Penggunaan oleh Operator

APAR industri sering digunakan oleh operator non-teknis dalam kondisi panik. Oleh karena itu, pemilihan APAR harus mempertimbangkan berat tabung, metode aktivasi, dan tingkat recoil (dorongan balik) saat digunakan. APAR yang terlalu berat atau sulit dioperasikan berisiko tidak digunakan sama sekali saat kondisi darurat.

Pentingnya Fire Risk Assessment untuk Menentukan APAR yang Tepat

Memiliki APAR di setiap area belum tentu berarti risiko kebakaran sudah terkendali. Banyak kasus kebakaran membesar bukan karena tidak ada APAR, melainkan karena jenis APAR tidak sesuai dengan potensi bahaya, layout ruang, dan kemampuan pengguna. Di sinilah Fire Risk Assessment (FRA) menjadi krusial.

Melalui layanan Fire Risk Assessment, Lumeshield siap membantu Anda menganalisis seluruh risiko kebakaran secara sistematis. Hasil assessment memastikan bahwa APAR yang dipasang benar-benar efektif saat dibutuhkan, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.

Jangan menunggu insiden atau temuan audit untuk menyadari bahwa ketersediaan APAR di industri Anda tidak sesuai dengan faktor risiko nyata. Hubungi kami untuk memulai konsultasi!

Share this article!